Utbah Bin Ghazwan: Pendiri Kota Basrah Yang Tak Betah Menjadi Pejabat (Bagian 3)

Pembagian tanah untuk pemukiman diatur sedemikian rupa berdasarkan kabilah-kabilah. Para prajurit Utbah membangun rumah-rumah berbahan kayu dan ilalang yang bisa dibongkar pasang. Jika pasukan Utbah akan berangkat perang menaklukkan daerah-daerah kekuasaan Persia lainnya, mereka cabuti kayu-kayunya lalu diikat. Jika pulang dari peperangan, mereka bangun kembali. Hanya Utbah yang tidak membangun rumah. Dia sudah merasa cukup tinggal di tenda lapuk yang dibawanya dari Madinah. Pangkalan militer di dekat kota Ubullah ini pada perkembangan selanjutnya semakin banyak dikunjungi oleh orang-orang baru yang ingin bermukim di sana, terutama orang-orang dari Hijaz dan Arab Utara (sementara orang-orang dari Yaman dan Arab Selatan kebanyakan lebih memilih bermukim di Kufah). Tempat inilah yang menjadi cikal bakal kota Basrah. 14 H dicatat sebagai tahun berdirinya kota Basrah. Kota Ubullah pun pada akhirnya menjadi bagian dari kota Basrah dan Utbah diangkat Khalifah Umar sebagai gubernur pertama untuk kawasan ini. Di zaman Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyah Basrah menjadi kota metropolitan. Tujuh pelabuhan besar dan seratus ribu lebih kanal menghiasi kota ini. Kelak orang-orang Eropa menjuluki Basrah sebagai Venesia Timur Tengah (Venice of the Middle East). Di Basrah juga terdapat sebuah lapangan luas yang paling terkenal, al-Mirbad namanya, saksi bisu perang saudara terbesar pertama dalam sejarah Islam. Dalam Mu’jam al-Buldan (No. 11.069 “al-Mirbad”, Juz 5, hal. 115) disebutkan bahwa pada awalnya al-Mirbad ini adalah tempat jual beli unta, kemudian menjadi ruang publik tempat orang-orang berkumpul, gelanggang bergengsi bagi para penyair membanggakan keahlian bersyairnya, dan mimbar bebas bagi para orator (وَمِرْبَدُ الْبَصْرَة: مِنْ أَشْهَرِ مَحَالِّهَا وَكَانَ يَكُوْنُ سُوْقُ الْإِبِلِ فِيْهِ قَدِيْمًا ثُمَّ صَارَ مَحَلَّةً عَظِيْمَةً سَكَنَهَا النَّاس وَبِهِ كَانَتْ مُفَاخَرَاتُ الشُّعَرَاءِ وَمَجَالِسُ الْخُطَبَاءِ). Di al-Mirbad inilah pasukan Ummul Mu’minin Aisyah yang didukung Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah berhadapan-hadapan dengan pasukan Utsman bin Hunaif (wakil Khalifah Ali bin Abi Thalib di Basrah). Ibnu Katsir (Hal. 407) mencatat bahwa pasukan Aisyah-Zubair-Thalhah yang bergerak dari Makkah, ketika sampai di Basrah berhenti di al-Mirbad yang posisinya sebelah atas dekat kota Basrah. Sebagian penduduk Basrah bergabung dengan pasukan Aisyah-Zubair-Thalhah, sebagian lagi bergabung dengan pasukan Utsman bin Hunaif. Mereka berhadap-hadapan di al-Mirbad pada minggu pertama bulan Rabiul Akhir tahun 36 H. Pasukan Khalifah Ali masih dalam perjalanan menuju Basrah dari Madinah. Hari kedua mereka berhadap-hadapan, pecahlah perang pembukaan tanpa kehadiran Khalifah Ali dengan kemenangan di pihak pasukan Aisyah-Zubair-Thalhah. Sebulanan kemudian, pertengahan Jumadil Ula, berkecamuklah Perang Jamal Kubra yang berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Khalifah Ali. Disebut Perang Jamal karena Aisyah memimpin pasukannya dari atas unta (جَمَل) yang memakai haudaj (هَوْدَج—sekedup atau tempat duduk dengan semacam tenda kecil yang dipasang di punggung unta, biasanya dipakai untuk perempuan). Ummul Mu’minin Aisyah akhirnya berdamai dengan Khalifah Ali. Dengan penuh penghormatan Aisyah dikembalikan ke Madinah—kali ini tanpa disertai Zubair dan Thalhah. “Inilah Basrah/Di sini Ali dan Aisyah/Menantu dan istri Nabi/Menguburkan dendam amarah/Girah terhadap keyakinan kebenaran/Setelah mengantarkan az-Zubair dan Thalhah/Hawari-hawari Nabi/Ke Taman Kedamaian Abadi yang dijanjikan…”

Kemenangan demi kemenangan diraih oleh pasukan Utbah dan pasukan muslim secara umum di wilayah kekuasaan Persia. Ghanimah demi ghanimah yang berlimpah telah mengubah nasib pasukan Utbah menjadi semakin makmur dalam gelimang kekayaan. Utbah melihat bahwa kenikmatan duniawi yang sedang dialami oleh pasukannya telah membuat banyak orang menjadi lupa diri. Salah satu contohnya, para prajurit yang asalnya tidak mengenal makanan Persia selain beras yang dimasak seadanya, sekarang mulai mengenal faludzaj dan lauzinj. Faludzaj (فَلُوْذَج) adalah sejenis makanan manis (حَلْوَى) yang terbuat dari tepung terigu, madu, dan minyak samin. Lauzinj (لَوْزِيْنج) juga adalah sejenis makanan manis yang berbahan baku kacang badam/almon (لَوْز). Perihal makanan faludzaj ini, Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadis dari jalur Sahabat Ibnu Abbas ra, “Pertama kali aku mendengar faludzaj adalah ketika Malaikat Jibril as mendatangi Nabi saw sambil berkata: ‘Sesungguhnya bumi akan ditaklukkan untuk umatmu, oleh karenanya mereka akan dibanjiri kenikmatan duniawi, sampai-sampai mereka memakan faludzaj.’ Nabi saw bertanya: ‘Apakah faludzaj itu?’ Malaikat Jibril as menjawab: ‘Mereka mencampur minyak samin dan madu bersama-sama.’ Maka Nabi saw tercengang karena berita itu.” (Lihat Hadits Sunan Ibnu Majah No. 3.331 – Kitab Makanan di www.hadits.id). Mereka sering berleha-leha sambil menikmati dua makanan lezat dan mewah khas Persia tersebut. Mereka semakin terlena bersenang-senang dalam beragam kemewahan sampai melalaikan agama. Utbah sangat gelisah melihat fenomena tersebut dan semakin tak betah untuk berlama-lama bermukim di Basrah. Mungkin kegelisahan Utbah melihat euforia pasukannya inilah yang dirasakan juga oleh Gus Mus ketika berada di Festival Puisi Mirbad: “Di sini, Jum’at siang, 25 Jumadil Ula/Sehabis menelan dan memuntahkan puisi-puisi kebanggaan/Ratusan penyair dengan garang berhamburan menyerang kambing-kambing guling/Ikan-ikan Syatthil Arab yang dipanggang kering/Nasi samin dan roti segede-gede piring/Anggur dan korma kemurahan Basrah/Aku dilepas takdir ke tengah-tengah mereka/Mengeroyok meja makan yang panjang/Menelan puisi dan saji…/Inilah Basrah/Bersama para penyair yang lapar/Kutelan semuanya/Bersama-sama menghabiskan apa yang ada/Sampai mentari ditelan bumi/Dan aku pun tertelan habis-habisan/Basrah mulai gelap/Barangkali adzan Maghrib sudah dikumandangkan/Tapi tampaknya tak satu pun yang mendengarnya/Kami kekenyangan semua…”

Menurut Khalid Muhammad Khalid (60 Sirah Sahabat Rasulullah saw, Al-I’tishom, Jakarta, Cet. 2, 2009, hal. 348), setelah menata kota Basrah, Utbah mengirim surat pengunduran dirinya sebagai gubernur kepada Khalifah Umar, tapi khalifah tetap menginginkan Utbah memimpin Basrah. Utbah pun menurut. Utbah tetap bertahan di Basrah, tetap menjadi imam shalat, mengajarkan Islam kepada rakyatnya, memutuskan perkara dengan adil, dan memberikan keteladanan dalam sifat zuhud, kesalehan, dan kesederhanaan. Nasihat demi nasihat Utbah sampaikan kepada rakyat Basrah. Tak henti-hentinya dia mengkritik pola hidup mewah dan berlebihan, hingga muncullah kebencian dari sebagian rakyat Basrah—yang terlena dalam godaan kesenangan duniawi—kepadanya. Utbah akhirnya bertekad untuk pulang ke Madinah dan mengajukan lagi pengunduran dirinya dari jabatan gubernur kepada khalifah. Sebelum pulang, Utbah menyampaikan khutbah terakhirnya kepada rakyat Basrah. Khutbah ini salah satunya dicatat oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Zuhud dan Kelembutan Hati (lihat Imam an-Nawawi, terjemah al-Minhaj Syarh Shahih Muslim bin al-Hajjaj, Darus Sunnah, Jakarta, Jilid 12, No. 7.361 & 7.362, hal. 683):

“Amma ba’du. Sesungguhnnya dunia telah memberitahukan akan kepergiannya dengan segera. Dan masa yang tertinggal hanyalah sisa-sisa saja, bagaikan sisa-sisa air yang menempel di dasar bejana setelah dituangkan isinya oleh pemiliknya. Dan sungguh kalian akan berpindah dari dunia ini menuju suatu negeri yang tiada akhirnya. Maka berpindahlah dengan berbekal amal kebaikan yang kalian kerjakan sekarang. Sungguh telah dikabarkan kepada kami bahwa sebuah batu dilemparkan dari tebing Jahanam, lalu batu itu jatuh ke dalam Jahanam selama tujuh puluh tahun namun belum juga sampai ke dasarnya. Dan demi Allah, sungguh Jahanam itu akan terisi penuh. Apakah kalian merasa heran? Dan sungguh telah dikabarkan kepada kami bahwa jarak antara dua daun pintu surga itu setara dengan empat puluh tahun perjalanan, dan sungguh akan datang kepada pintu surga itu suatu hari di mana ia penuh sesak oleh orang-orang. Sungguh aku pernah mendapati diriku adalah orang ketujuh dari tujuh serangkai yang menyertai Rasulullah saw. Kami tidak memiliki makanan apa pun selain daun-daun pepohonan, hingga membuat mulut kami terluka. Lalu kutemukan secarik kain, kurobek menjadi dua bagian, satu untukku dan satu lagi untuk Sa’ad bin Malik (alias Sa’ad bin Abi Waqqash). Setengahnya kupakai sebagai sarung dan setengahnya lagi Sa’ad pakai sebagai sarung. Namun hari ini, masing-masing dari kami telah mejadi pemimpin di beberapa wilayah. Sungguh aku berlindung kepada Allah agar aku tidak merasa besar (karena jabatan dan kekayaan) padahal di sisi Allah aku ini sangatlah kecil. Dan tidak ada satu kenabian pun kecuali bergiliran silih berganti antara kalah dan menang, hingga giliran terakhirnya adalah kekuasaan (kerajaan). Maka kalian akan mengetahui dan mengalami kepemimpinan para penguasa setelah kami.”

Utbah kemudian berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Semua urusan menyangkut kota Basrah Utbah serahkan kepada al-Mughirah bin Syu’bah dari Bani Tsaqif. Selesai ibadah haji Utbah melanjutkan perjalanan menuju Madinah dan menghadap Khalifah Umar. Utbah memohon kepada khalifah agar dibebaskan dari tugasnya sebagai Gubernur Basrah. Utbah tidak ingin kembali ke Basrah dan akan menetap di Madinah. Khalifah menolak keras permohonan Utbah. Khalifah sangat membutuhkan orang-orang zuhud semacam Utbah, orang-orang yang tidak tertarik dengan urusan duniawi, orang-orang yang tidak gampang tergoda oleh gemerlap duniawi, padahal kebanyakan orang mati-matian mengejarnya, bahkan sampai menghalalkan segala cara. “Kalian telah meletakkan tanggung jawab di pundakku,” kata Khalifah Umar seperti dicatat Muhammad Khalid (Hal. 349), “lalu kalian akan meninggalkanku sendirian? Demi Allah, aku tidak akan melepaskan kalian begitu saja dari tanggung jawab ini.” Mendengar jawaban khalifah, Utbah tak punya pilihan lain kecuali taat dan patuh pada titah khalifah. Setelah berpamitan kepada khalifah, dengan gontai Utbah berjalan menuju kuda kesayangannya. Sebelum naik ke punggung kudanya, Utbah menghadap kiblat terlebih dahulu dan mengangkat kedua tangannya. Utbah melirihkan doa agar Allah swt tidak mengembalikannya ke Basrah dan agar membebaskannya dari amanat berat sebagai seorang gubernur yang tak sanggup dipikulnya. Utbah kemudian menaiki kudanya dan berangkat menuju Basrah—kota penuh kenangan yang tak ingin dilihatnya lagi.

Doa pejuang Badar itu dikabulkan Allah swt. Di tengah perjalanan, tepatnya di daerah bernama Ma’dan Bani Sulaim (sekarang daerah ini bernama Mahd adz-Dzahab, Provinsi Madinah), masih di atas kuda, ajal pun menjemputnya. Utbah bin Ghazwan wafat pada tahun 17 H di usia 57 tahun.

Tamat

Wallahu a’lam.

Ali Mifka

Kader GP Ansor Tanjungsari, Sumedang. Aktif mengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah An-Nuuh Tanjungsari, Sumedang.

Related posts

Leave a Comment