Utbah Bin Ghazwan: Pendiri Kota Basrah Yang Tak Betah Menjadi Pejabat (Bagian 2)

Pascawafatnya Rasulullah saw, Abu Bakar ash-Shiddiq dibaiat sebagai pemimpin umat Islam. Khalifah Abu Bakar kemudian unjuk kekuatan militer menantang dua kekaisaran sekaligus, Romawi dan Persia, setelah sebelumnya sukses memadamkan pemberontakan kaum murtad di Perang Riddah dan Musailamah al-Kadzdzab di Perang Yamamah. Ekspedisi militer pertama ke wilayah Persia dipimpin oleh Khalid bin Walid. Beberapa wilayah di Irak yang saat itu di bawah kekuasaan Persia berhasil ditaklukkan, penduduknya tidak berkenan masuk Islam tapi bersedia mengakui kekuasaan Madinah dengan membayar jizyah. Pasukan Khalid bin Walid lalu ditarik ke wilayah Syam untuk membantu pasukan yang sedang berperang dengan Romawi. Tak berselang lama, karena tekanan dari pasukan Persia, penduduk Irak membatalkan perjanjian jizyah dengan Madinah. Ketika Khalifah Abu Bakar wafat dan digantikan Khalifah Umar bin Khatthab, ekspedisi militer lanjutan ke wilayah Romawi dan Persia pun dilancarkan. Abu Ubaidah al-Jarrah dipilih sebagai panglima perang utama menggantikan Khalid bin Walid untuk wilayah Syam dan sekitarnya yang dikuasai Romawi. Untuk wilayah Irak-Iran dan sekitarnya yang dikuasai kekaisaran Persia Dinasti Sasanid, ditunjuklah Saad bin Abi Waqqash sebagai panglima perang utama.

Ketika peperangan demi peperangan sedang berkecamuk di wilayah Irak, Saad bin Abi Waqqash mengirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah agar dikirimkan pasukan pembantu untuk menaklukkan Ubullah di Irak bagian selatan. Ubullah adalah kota pelabuhan yang ramai oleh lalu lintas kapal dagang dari berbagai negara, terutama kapal dagang dari India dan Cina. Populasi para pedagang dari India mendominasi di Ubullah. Seperti halnya sebagian besar kota-kota lain di Irak, Ubullah juga dilalui oleh sungai Tigris (Dajlah) dan Eufrat (Furat). Aliran dua sungai besar ini lalu bertemu di daerah al-Qurnah dan membentuk sungai besar juga, orang Arab menyebutnya sungai Syatth al-Arab (شَطُّ الْعَرابِ) atau sungai Arvand Rud dalam bahasa Persia, panjangnya membentang sekitar 200 kilometer dan lebarnya bervariasi antara 200 meter hingga 800 meter. Pelabuhan di Ubullah adalah jalur langsung menuju Teluk Persia, Iran, Kuwait, Bahrain, Abu Dhabi, Qatar, Selat Hormuz, Teluk Oman, India, lalu Laut Arab. Wilayah yang sangat strategis sebagai basis ekonomi dan militer. Di sini juga berdiri benteng pangkalan militer pasukan Persia. Dari sinilah salah satu tempat yang menyuplai bantuan prajurit tambahan dan logistik untuk pasukan Persia di dua medan peperangan utama, yaitu Qadisiyah dan Madain. Jika Ubullah ditaklukkan, maka suplai logistik akan terblokade dan kekuatan pasukan Persia yang sudah mengalami beberapa kali kekalahan akan semakin melemah. Dalam catatan Abdurrahman Ra’fat al-Basya (Shuwar min Hayat ash-Shahabah, Dar an-Nafais, Beirut, 1412 H, hal. 393), Khalifah Umar saat itu di Madinah hanya mampu mengumpulkan 310-an orang prajurit (ثَلَاثُ مِائَةٍ وَبِضْعَةَ عَشَرَ رَجُلًا). Khalifah Umar berpikir bahwa pasukan yang sedikit ini akan memenangkan peperangan jika dipimpin oleh seorang panglima yang cerdas, tangguh, dan berpengalaman. Maka ditunjuklah Utbah bin Ghazwan yang Khalifah Umar puji sebagai sang veteran Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan perang lainnya; yang tak pernah salah menebaskan pedang, anak panahnya tak pernah meleset, telah berhijrah dua kali, dan orang ketujuh dari tujuh serangkai yang masuk Islam di muka bumi ini (وَكَانَ سَابِعَ سَبْعَةٍ أَسْلَمُوْا عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ). Bagi Khalifah Umar, “Sesungguhnya Utbah bin Ghazwan memiliki kedudukan (terhormat) dalam (perjalanan) agama Islam” (إِنَّ لِعُتْبَةَ بْنِ غَزْوَان مِنَ الْإِسْلَامِ مَكَانًا). 310-an orang prajurit ini, menurut Ibnu Katsir (Hal. 145), kemudian bertambah menjadi 500 orang berkat bergabungnya kaum Arab Badawi (وَسَارَ إِلَيْهِ مِنَ الْأَعْرَابِ مَا كَمل مَعَهُ خَمْسُ مِائَة). Utbah dan pasukannya ini bergerak ke Ubullah pada bulan Rabiul Awwal tahun 14 H. Ikut serta di dalamnya beberapa perempuan yang  merupakan keluarganya sendiri dan keluarga beberapa prajuritnya. Dan ketika sampai di Ubullah jumlah total prajuritnya adalah 600 orang (سِتُّ مِائَة مُقَاتِل).

Menurut Raf’at al-Basya (Hal. 394-395), ketika memasuki daerah Qashba (dinamakan Qashba karena daerah ini penghasil قَصَبْtebu), daerah terdekat dari Ubullah, pasukan Utbah kehabisan bekal makanan. Utbah mengutus beberapa prajuritnya untuk menyisir daerah ini demi mencari makanan. Di area yang dipenuhi pepohonan rimbun, mereka menemukan dua buah keranjang besar dengan pegangan yang tergeletak begitu saja di bawah pohon. Keranjang pertama berisi kurma matang yang sudah dikeringkan (تَمْرٌ), keranjang kedua berisi biji-bijian putih kecil yang terbungkus kulit kuning (حَبٌّ أَبْيَضُ صَغِيْرٌ مُغَطًّى بِقِشْرٍ أَصْفَر). Isi keranjang kedua adalah benda asing bagi pasukan Utbah. Mereka tak memakannya karena khawatir itu adalah benda beracun. Lalu ada seorang perempuan, saudari salah seorang prajurit, membawa butiran berkulit kuning itu ke dalam tungku dan dinyalakanlah api di bawahnya. Dia berkata bahwa benda beracun tidak akan berbahaya jika dimatangkan di atas api. Butiran berkulit kuning itu berubah memerah karena digarang, kulit kuningnya terkelupas, muncullah butiran putih, kemudian dikumpulkan di atas piring besar untuk makan berjamaah khas Arab (jufnah). Urwah memerintahkan para prajuritnya agar menyebut nama Allah swt sebelum memakan benda itu. Butiran putih hangat itu terasa lumayan enak di lidah mereka. Di kemudian hari mereka mengenal butiran asing itu dengan nama beras (أَلْأَرُزُّ) dan terasa semakin enak jika direbus terlebih dahulu, bukan hanya sekadar digarang (lihat juga Mu’jam al-Buldan, Juz 1, hal. 511-512). Inilah perkenalan pertama orang-orang Arab Utara dengan beras. Beras dikenalkan ke wilayah Persia kemungkinan besar oleh orang-orang dari Asia Selatan (India dan sekitarnya) serta Asia Timur (Cina) lewat pelabuhan Ubullah. Maka tak mengherankan jika hingga kini banyak kuliner Arab dan Persia yang berbahan dasar beras, semisal nasi briyani, nasi kabsah, nasi kabli, nasi madhi, nasi bukhari, dan sebagainya; meskipun beras tetap tidak bisa menggeser gandum dan kurma sebagai makanan pokok bangsa Arab dan Persia—seperti halnya juga roti gandum yang tetap tidak bisa menaklukkan lidah orang-orang yang makanan pokoknya nasi.

Ketika semakin mendekat ke perbatasan Ubullah, Utbah mengatur pasukan berkudanya agar berbaris rapi dalam posisi siaga penyerangan. Utbah juga membariskan para perempuan dan membekali mereka dengan panji-panji perang yang diikatkan di ujung tombak. Utbah berpesan kepada para perempuan agar menghamburkan debu tanah sebanyak-banyaknya, sekuat-kuatnya, hingga memenuhi angkasa, jika pasukan berkuda sudah mulai bergerak menyerang gerbang kota Ubullah. Rombongan berkuda yang melesat cepat disertai gemuruh takbir, kibaran panji-panji perang di belakangnya, serta hamburan debu yang memenuhi angkasa, terlihat begitu menggentarkan bagi pasukan Persia. Mereka menyangka bahwa rombongan berkuda yang di depan adalah pasukan pembuka atau pasukan garis depan (طَلِيْعَةُ الْعَسْكَرِ), sedangkan pasukan utamanya atau pasukan terbesarnya (جَيْشٌ جَرَّارٌ) masih di belakang. Taktik Utbah ini berhasil menciutkan nyali pasukan Persia. Dalam keadaan panik, kebanyakan dari mereka berebutan menaiki perahu-perahu besar yang tertambat di sungai Dajlah (Tigris) untuk melarikan diri. Tak ada perlawanan yang berarti dari mereka. Ketika Ubullah berhasil dikuasai, Utbah tidak kehilangan seorang pun dari pasukannya. Pasukan Utbah mendapatkan harta rampasan perang (ghanimah) yang berlimpah. Saking banyaknya ghanimah tersebut dalam pandangan orang-orang Arab Utara, mereka mengistilahkannya dengan “sudah tidak bisa dihitung lagi dan melampaui semua hitungan” (عَزَّتْ عَلَى الْحَصْرِ وَفَاقَتْ كُلَّ تَقْدِيْر). Utbah kurang begitu suka melihat situasi ini. Tumpukan emas perak, ragam pakaian dan makanan mewah yang sedang dinikmati oleh pasukannya—dalam benak Utbah—begitu mencemaskan. Utbah tak ingin pasukannya larut dalam euforia kenikmatan duniawi, hal yang bisa membelokkan niat dan semangat jihad fi sabilillah. Utbah tak ingin pasukannya terkena penyakit wahn (وَهْنٌ) seperti yang Rasulullah saw peringatkan, yaitu “penyakit cinta dunia dan takut akan kematian” (حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ). Solusi yang terpikir oleh Utbah adalah pasukannya jangan sampai berlama-lama menetap di kota Ubullah yang kian terasa begitu melenakan. Utbah lalu mengirim surat kepada Khalifah Umar di Madinah, mengabarkan perihal kemenangan dan meminta izin membangun pemukiman di luar kota Ubullah, untuk markas pasukannya (pangkalan militer) dan tempat beristirahat di musim dingin. Khalifah Umar mengizinkan dengan syarat pemukiman itu tak jauh jaraknya dari Ubullah, harus dekat dengan sumber air dan ladang penggembalaan—dua hal yang sangat penting bagi kehidupan bangsa Arab. Menurut Muhammad Husain Mahasnah (Pengantar Studi Sejarah Peradaban Islam, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2016, hal. 231), ketersediaan sumber air, iklim yang sesuai dan udara yang baik, letak yang strategis, serta sarana transportasi darat atau laut yang memudahkan, adalah empat syarat utama ketika kaum muslimin akan mendirikan kota-kota baru.

Utbah berhasil menemukan tempat seperti yang disyaratkan oleh Khalifah Umar. Bangunan pertama yang didirikan Utbah adalah masjid, posisinya di tengah pemukiman, berbahan kayu dan rumput ilalang. Masjid inilah yang di kemudian hari terkenal sebagai Masjid Agung Basrah. Kelak di masjid ini Imam Hasan al-Bashri muda diberi izin untuk tetap mengajar oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib setelah dites dua buah pertanyaan dan jawabannya memuaskan Khalifah Ali. “Anak muda,” tanya Khalifah Ali ketika melihat Hasan Bashri sedang mengajar, “aku hendak bertanya dua hal kepadamu. Jika kau dapat menjawabnya dengan benar, maka kau boleh meneruskan berbicara di depan umat. Apa yang dapat menyelamatkan agama dan apa yang dapat merusak agama?” Hasan Bashri muda menjawab, “Yang dapat menyelamatkan agama adalah sifat wara’ (sifat hati-hati meninggalkan syubhat—perkara yang belum jelas halal-haramnya, karena takut atau khawatir pada keharamannya) dan yang dapat merusak agama adalah sifat thama’ (sifat rakus, serakah—berkeinginan besar hanya untuk kepentingan dirinya sendiri).” “Kau benar,” respons Khalifah Ali, “teruskan aktivitas mengajarmu. Orang sepertimu layak berbicara di depan umat.” Di masjid ini kelak Imam Hasan al-Bashri tua dengan raut sedih berkata dengan lirih, “Washil telah memisahkan diri dari kita” (إِعْتَزَلَ عَنَّا وَاصِل). Washil bin Atha—dan Amr bin Ubaid—adalah murid Imam Hasan al-Bashri yang memisahkan diri dengan membuat pengajian baru di sudut lain Masjid Agung Basrah. Dari kata “I’tazala” inilah kemudian kelompok pengajian Washil bin Atha dikenal dengan nama Mu’tazilah. Di masjid ini juga kelak Imam Abul Hasan al-Asy’ari memproklamirkan dirinya keluar dari mazhab teologi Mu’tazilah dan mendirikan mazhab teologi Asy’ariyah. Selain membangun masjid agung (jami’), di sana juga dibangun masjid-masjid kecil di setiap pemukiman. Shalat Jum’at hanya dipusatkan di Masjid Agung Basrah.

Bersambung ke bagian 3

Wallahu a’lam.

Ali Mifka

Kader GP Ansor Tanjungsari, Sumedang. Aktif mengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah An-Nuuh Tanjungsari, Sumedang.

Related posts

Leave a Comment