Pesan Harlah GP Ansor Ke-87, Ahmad Fathoni: Medsos Harus Jadi Media Juang Untuk Kebenaran

Ansor Media – Ketua PC GP Ansor Kabupaten Bandung Ahmad Fathoni menyatakan  bahwa kader GP Ansor harus bisa menjadi garda terdepan dalam memanfaatkan media sosial sebagai alat perjuangan dalam menyampaikan kebenaran kepada masyarakat.

“Menyikapi fenomena lalu lintas informasi yang pada hari ini, masyarakat lebih memilih media sosial sebagai sumber beritanya, dan tidak sedikit berita yang beredar di medsos itu mengandung hoax, kebencian, dan benih-benih radikalisasi. Saya tekankan kepada sahabat-sahabat Ansor yang ada di seluruh tingkatan kepengurusan GP Ansor Kabupaten Bandung untuk lebih sadar terhadap pentingnya media sosial dalam menangkal berita hoax, kebencian dan benih radikalisasi yang tersebar secara bebas kepada masyarakat,” kata Toni kepada media Ansor di sela-sela acara peringatan Harlah ke-87 GP Ansor di Rumah Dinas Bupati Bandung, Komplek Pemkab Bandung, Soreang, (24/04).

“Bagaimana kita memaksimalkan media sosial sebagai sarana dakwah dengan menyampaikan kebenaran yang seutuhnya, tidak dilabeli dengan kepentingan pribadi apalagi politik. Media sosial perhari ini harus menjadi ujung tombak dalam moda perjuangan dalam menyampaikan idiologi keagamaan dan idiologi kebangsaan yang sudah sejak lama dijaga oleh para pendahulu kita, khususnya oleh ulama Nahdlatul Ulama,” sambungnya.

Harlah tersebut dilangsungkan dengan tema, “Transformasi Media Juang”.

“Maka dengan mengusung tema, Transformasi Media Juang, Harlah ke-87 ini menjadi titik awal bagi terbangunnya infrastruktur media informasi GP Ansor Kabupaten Bandung dengan ditandai hadirnya web resmi GP Ansor dan akun official media sosial GP Ansor, diharapkan dapat menjadi sumber penyampai informasi bagi kader Ansor, khususnya dan masyarakat pada umumnya,” tutur Ahmad Fathoni.

Acara yang dihadiri oleh para Ketua GP Ansor dan Kasatkorcab periode sebelumnya ini dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan ketat 5 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan membatasi mobilitas dan interaksi) mengingat masa pandemi Covid-19 belum berakhir.

Pewarta: Chandra Gupta

Related posts

Leave a Comment