Jalan Spiritual Musisi Melalui Musik

Manusia adalah makhluk yang memiki dimensi lahiriyah dan batiniyah, semua hal yang mampu dijangkau dengan panca indera (lahiriyah) selalu memberikan pesan tersendiri ke dalam ruang batiniyahnya, seperti halnya bunyi dan harmoni sebuah lagu/musik yang tidak hanya berhenti menjadi konsumsi telinga saja, ada ruang batin yang mampu meresepon dan merasakan apa yang terdengar oleh telinga, meski tidak semua yang bersifat batiniyah mampu terjangkau dengan panca indera oleh sebab itu pesan batiniyah ini selalu subjektif, dan subjektifitas ini pula yang kemudian seringkali menjadi dasar ekpresi sebuah karya seorang musisi.

Musik dalam tradisi Islam adalah salah satu kunci spiritualitas, menurut Nasr (1976) musik memiliki fungsi esoteris sebagai ‘samudra surgawi dalam proses tasawuf’ dan bagi para salik (pencari Tuhan) musik adalah medium untuk menggapai eksistensi Tuhan dan ruang komunikasi saat panca indera dan hukum-hukum kemanusian (qowanin al-insan al-basyariyah) tak mampu menjangkau-Nya.

Para salik menyadari bahwa dirinya sebagai manusia sangat terbatas dan lemah, khususnya untuk mengurai wilayah batiniyah, akhirnya ada banyak aneka pilihan jalan (thoriqoh) untuk menjawab kebutuhan batiniyahnya itu, salah satunya melalui musik.

Seperti Maulana Jalaluddin Rumi Sang Penyair muslim tokoh sufi besar dunia islam yang menjadikan musik sebagai media kontemplasi dan meditasi untuk memulihkan aneka permasalahan batin dan jiwanya, sebagai upaya “tajarrud” pembebasan jiwa dari hal yang bersifat duniawi, kebendaan dan upaya meninggalkan wujud terbatasnya untuk bergabung dengan hakikat yang Maha Sempurna, Maha Indah, tidak memiliki cacat, kekurangan, kefanaan dan keterbatasan.

Musik sebagai media, efeknya tentu akan sangat beragam sesuai orientasi pelaku (manusia) dan pengalamannya, baik pengalaman alam sadar ataupun pengalaman alam bawah sadarnya, tapi konon bahwa jauh-jauh hari sebelum terlahir ke dunia, sebenarnya manusia sudah terikat perjanjian dengan Tuhan, sebagaimana dibenarkan dalam Al-Quran :

Dan mengapa kamu tidak beriman kepada Allah padahal Rasul menyerumu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu. Dan sesungguhnya Dia (Allah) telah mengambil perjanjianmu, jika kamu adalah orang yang beriman“, (QS. Al Hadid [57]:8)

Berdasar pada ayat al-Quran diatas mungkin saja sekalipun manusia tidak menjadikan musik sebagai media spiritual secara khsusus dan meski manusia tidak sadar atas perjanjiannya dengan Allah, tapi secara spiritual fitrah manusia secara umum tentu sama saja, artinya apa yang diraih para sufi dan salik melalui musik, sangat mungkin juga dialami oleh musisi secara umum, sebagai ekspresi batin alam bawah sadar yang terikat janji dan merindukan Tuhan?

Mencoba mengambil hikmah dari wafatnya Alm. Pak Eben Burgerkill misalnya, seorang musisi metal tanah air saat featuring dengan Dewa 19, sepanjang lagu berjudul Elang yang mirip karya puisi Kahlil Gibran ini berlangsung, hanya sepenggal lirik “air mata tak kan memanggilku untuk kembali” sajak yang Alm. Pak Eben lantunkan, hingga akhirnya ini menjadi konser terakhirnya sebelum wafat.

Mungkinkah saat melantunkannya, alam bawah sadar Pak Eben sebenarnya sedang berkomunikasi dan bercumbu rindu dengan sang Maha Pencipta? seolah memberi isyarat kepada keluarga dan para begundal bahwa dalam waktu dekat Ia akan pergi berjumpa dengan sang Maha Kuasa meninggalkan alam fana ini.

Ya, bak tersingkapnya tirai batin (kasyf) yang dialami para sufi dan salik pada Maqom tertentu, apa yang Pak Eben alami mungkin saja adalah sebuah ekstase, hingga lirik yang ia lantunkan seperti sebuah prediksi masa depan yang disampaikan Tuhan melalui batin alam bawah sadarnya, dan tak jarang sebuah karya yang dibuat dan dinyanyikan seorang musisi, seringkali menjadi kenyataan.

Wallahu a’lam bishowab.

Alfatihah untuk Pak Eben.

Penulis: Muhammad Taufiq Anwari (Kang Uwi)

Ketua PAC GP Ansor Banjaran, sekaligus pegiat teater.

Leave a Comment