Biografi Singkat Imam Asy’ari; Sang Peneguh Ahlussunnah wal Jama’ah

Berbicara Ahlussunnah wal Jama’ah maka kita akan diingatkan langsung dengan satu tokoh bernama Ali bin Ismail atau yang lebih dikenal dengan julukan Abu Hasan al-Asy’ari. Beliau merupakan ulama besar keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang sahabat Nabi yang disabdakan langsung oleh Rosululloh bahwa kaumnya adalah golongan yang selalu mencintai Alloh sekaligus dicintai oleh Alloh. Diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, beliau berkata, “Aku membaca di hadapan Nabi ﷺ penggalan ayat “…Maka kelak Alloh akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” Maka, Nabi ﷺ bersabda “Mereka (yang dimaksud dalam penggalan ayat tersebut) adalah kaummu, wahai Abu Musa”. Dan Rosululloh memberikan isyarat dengan tangan beliau kepada Abu Musa al-Asy’ari” (HR. Al-Hakim).

Abu al-Hasan al-Asy’ari lahir pada 260 H. Beliau sudah ditinggal wafat oleh ayahnya sejak masih usia belia. Sepeninggal ayahnya, beliau dipasrahkan untuk menimba ilmu Hadits kepada Syekh Zakaria as-Saji, salah satu ulama besar dengan kepakaran di bidang ilmu hadits dan ilmu fiqih yang merupakan murid dari Imam Ahmad bin Hanbal. Abu al-Hasan al-Asy’ari juga belajar ilmu hadits kepada Abu Khalaf al-Jahmi, Abu Sahl bin Sarh, Muhammad bin Ya’qub al-Muqri’, dan Abdurrahman bin Khalaf al-Bashri (Tajuddin as-Subuki, Thabaqat Syafi’iyyah al-Kubra, Beirut: Darul Kutub al-Islamiyyah, 2009, vol. 3, hal. 347).

Semasa mudanya beliau juga menimba ilmu kepada Ali al-Juba’i seorang tokoh ulama Mu’tazilah yang juga ayah tirinya, sebagaimana dicatat oleh Shalahuddin ash-Shafadi pada kitab al-Wafi bil Wafayat. Namun, pengalamannya berdiskusi bersama para pakar Mu’tazilah ini kelak menjadi bekal dalam mematahkan setiap argumentasi Mu’tazilah untuk membela manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. DIriwayatkan oleh Ibnu as-Sakir: bahwa beliau berkata “tersirat di hatiku (Abu al-Hasan al-Asy’ari), beberapa permasalahan dalam ilmu aqidah. Maka, aku pun berdiri untuk menjalankan shalat dua rakaat. Dan aku meminta kepada Alloh agar Dia memberikanku petunjuk menuju jalan yang lurus. Aku pun tertidur, tak lama kemudian aku bermimpi bertemu Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam di dalam mimpi. Aku pun mengadukan beberapa permasalahan kepada beliau. Rosululloh pun mewasiatkan, ‘Tetapkanlah sunnah-ku.’ Aku pun terbangun dan aku membandingkan beberapa permasalahan ilmu aqidah dengan dalil yang aku temukan di dalam Al-Qur’an dan hadits. Kemudian, aku menetapinya dan aku membuang selainnya di balik punggungku” (Ibnu as-Sakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, hal. 37).  

Abu al-Hasan al-Asy’ari menyibukkan diri untuk meneliti dan menuliskan banyak argumentasi dalam mengkaji Mu’tazilah dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Kemudian setelah lima belas hari lamanya, Abu al-Hasan al-Asy’ari keluar dari rumahnya menuju masjid dan ia menaiki mimbar seraya berkata: “Wahai segenap masyarakat, aku menjauh dari kalian semua dalam beberapa waktu ini karena aku ingin meneliti beberapa permasalahan. Maka, menjadi serupa bagiku seluruh dalil yang ada serta tak ada perkara haq yang mengungguli perkara bathil maupun sebaliknya saat itu. Kemudian, aku meminta petunjuk kepada Alloh. Maka, Alloh pun memberikanku petunjuk kepada keyakinan yang telah aku tuliskan di dalam kitab-kitab yang telah ku tulis ini. Dan aku melepaskan seluruh aqidah menyimpang yang aku yakini selama ini sebagaimana aku melepaskan pakaianku ini (maka Abu al-Hasan al-Asy’ari pun melepaskan pakaian yang ia pakai sebagai isyarat)” (Ibnu as-Sakir, Tabyin Kidzb al-Muftari, hal. 39).

al-Hasan al-Asy’ari lebih dikenal dengan pemikiran dalam ilmu aqidah dengan karya monumentalnya yang berjudul “Maqalat al-Islamiyyin” yang berisikan sejarah perkembangan berbagai sekte dalam Islam sejak zaman kenabian hingga di masanya. Beliau juga memiliki beberapa karya besar di berbagai bidang ilmu lain. Dalam ilmu Hadits, Abu al-Hasan al-Asy’ari membuat kitab khusus yang berisikan bantahan terhadap Ibnu Rawandi, salah satu tokoh Mu’tazilah yang menentang hadits mutawattir. Di bidang tafsir Al-Qur’an, beliau menulis kitab tafsir al-Mukhtazin. Di bidang ushul fiqh, beliau menulis kitab al-Ijtihad dan al-Qiyas. Menurut Ibnu as-Sakir, Abu al-Hasan al-Asy’ari memiliki 90 karya tulis. Menurut Ibnu Hazm, Ibnu Katsir, dan Ibnu Imad al-Hambali, beliau memiliki 55 karya tulis. Dan menurut Tajuddin as-Subuki, beliau memiliki 21 karya tulis. Namun, saat ini hanya ada 8 karya beliau yang tercetak, yaitu kitab Maqalat al-Islamiyyah, kitab al-Luma’ fi Radd ala Ahli Zaigh wal Bida’, kitab Tasir al-Qur’an, kitab al-Imad fi Ru’ya, kitab Risalah al-Iman, kitab Risalah al-Istihsan al-Khaud fi Ilm al-Kalam, kitab Qaul Jumlah Ashab al-Hadits wa Ahlussunnah fi al-I’tiqad, dan kitab al-Ibanah an Ushul ad-Diyanah (lihat majalah Shaut al-Azhar edisi Rabi’ul Awwal 1440 H, hal. 170)

Abu al-Hasan al-Asy’ari merupakan tokoh yang menguatkan argumentasi serta dalil-dalil yang telah diutarakan oleh para ulama di zaman sebelumnya. Beliau adalah tokoh yang terang-terangan melawan segenap aqidah yang menyimpang dari pemahaman yang diajarkan para sahabat Nabi. Beliau menghadapi para pembesar sekte-sekte yang sesat dengan gagah berani untuk menjalankan wasiat baginda Nabi ﷺ .

Rosul ﷺ bersabda “Ketika generasi akhir umat ini telah melaknat generasi awalnya, maka barang siapa yang memiliki ilmu hendaklah ia menunjukkannya. Maka sesungguhnya orang yang menyembunyikan ilmu di saat seperti itu seperti orang yang menyembunyikan ilmu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ” (HR Thabrani). Hal ini, sebagaimana yang telah diutarakan oleh Tajuddin as-Subuki  “Ketahuilah, sungguh Abu al-Hasan tidaklah membuat bid’ah pemikiran, bukan juga mendirikan mazhab baru, akan tetapi ia meneguhkan mazhab ulama terdahulu, ia membela manhaj yang dibawa oleh para sahabat Nabi ﷺ. Maka penisbatan kepadanya adalah disebabkan ia meneguhkan jalan para ulama salaf dengan argumentasinya, ia berpegang teguh serta mendirikan argumentasi yang kuat atas manhaj ulama salaf. Maka, yang diikuti dari manhaj Abu al-Hasan beserta dalil-dalilnya disebut dengan Asy’ariyyan” (Tajuddin as-Subuki, Thabaqat Syafi’iyyah al-Kubra, hal. 365).  Menjelang wafatnya pada tahun 324 H, Abu al-Hasan al-Asy’ari berwasiat kepada murid-muridnya untuk tidak megkafirkan sesama umat islam. Sebagaimana yang dicatat oleh Syamsuddin adz-Dzahabi dalam kitab Siyar ‘Alam an-Nubala. Diriwayatkan dari Zahir bin Khalid, bahwasannya beliau bercerita “Ketika telah dekat ajal, Abu al-Hasan al-Asy’ari di rumahku di kota Baghdad, beliau memanggilku maka aku pun mendatanginya. Abu al-Hasan al-Asy’ari berwasiat “Aku bersaksi bahwa aku tak pernah mengkafirkan satu pun orang dari golongan ahlul qiblah (umat Islam), karena seluruhnya menghadap kepada Dzat yang disembah yang satu. Dan sesungguhnya perbedaan yang ada adalah perbedaan dalam penjelasannya saja.”

Dirangkum dari berbagai sumber

(Kominfo/Gft)

Related posts

2 Thoughts to “Biografi Singkat Imam Asy’ari; Sang Peneguh Ahlussunnah wal Jama’ah”

  1. moch syujai

    subhanallah

Leave a Comment