Bid’ah; Pembagian dan Pengertiannya menurut Ulama Salaf.

Perdebatan seputar hal bid’ah seakan tidak ada habisnya, bahkan cenderung menjurus pada perdebatan yang bersifat emosional dan berujung pada perpecahan. Padahal tentang hal ini telah dianggap selesai oleh para ulama terdahulu, dengan saling menghormati pendapat satu sama lain.

Sabda Nabi bahwa “Perbedaan pendapat pada umatku adalah rahmat.” (As Suyuthi mengatakan hadits ini diriwayatkan oleh Nashr Al Maqdisi dalam kitab Al Hajjah secara marfu’ dan Al Baihaqi dalam Al Madkhal dari Al Qasim bin Muhammad dan ini adalah ucapan beliau. Lihat Ad Durar, Hal. 1), terlepas sebagian ulama mengatakan bahwa hadits di atas itu dho’if (lemah) bahkan munqathi’ (terputus) sanadnya, namun dapat kita amini bahwa perbedaan itu sesuatu yang pasti.

Kita tidak dapat menuntut orang lain harus sama dengan kita, dikarenakan adanya pola pikir yang berbeda. Maka yang disebut dengan “rahmatan” di atas adalah adanya kesadaran untuk menghargai dan menghormati pendapat orang lain, sehingga dalam perbedaan kita tetap bersatu dalam persaudaraan. Oleh karenanya menjadi penting bagi umat muslim untuk mengetahui apakah bid’ah beserta perbedaan pandangan para ulama terkait bid’ah itu seperti apa?

Apalagi dengan fenomena munculnya banyak seruan yang mengatasnamakan Anti Bid’ah dengan tagline “kembali kepada qur’an dan sunnah”, “Islam cukup sempurna tidak perlu ditambah dan dikurang”, dan semacamnya. Dengan mengkategorikan orang-orang yang tidak sefaham dengan mereka sebagai ahlul bid’ah yang secara otomatis kafir. Tidak ada salahnya kita bedah secara singkat beberapa pandangan para ulama tentang bid’ah.

Menurut para ulama bid’ah dalam ibadah dibagi dua: yaitu bid’ah hasanah dan bid’ah dhalalah. Di antara para ulama yang membagi bid’ah ke dalam dua kategori ini adalah:

1. Imam Syafi’i

Menurut Imam Syafi’i, bid’ah dibagi dua; bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah (tercela). Bid’ah yang mencocoki sunnah adalah mahmudah, dan yang tidak mencocoki sunnah adalah madzmumah.

Bid’ah mahmudah kemudian dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah bid’ah wajib seperti kodifikasi (pengumpulan) al-Qur’an pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan pengumpulan hadits ke dalam kitab-kitab besar pada zaman sesudahnya. Sedangkan bid’ah mahmudah yang kedua adalah bid’ah sunnah, seperti shalat tarawih 20 rakaat pada zaman khalifah Umar bin Khathab.

2. Imam al-Baihaqi

Imam Baihaqi membagi jadi; bid’ah madzmumah dan ghairu madzmumah. Setiap Bid’ah yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ adalah ghairu madzmumah. Sedangkan bid’ah madzmumah adalah bid’ah yang tidak memiliki dasar syar’i sama sekali.

3. Imam Nawawi

Imam Nawawi juga mebaginya menjadi dua, yaitu; bid’ah hasanah dan bid’ah qabihah.

4. Imam al-Hafidz Ibnu Atsir

Beliau membagi bid’ah menjadi; bid’ah yang terdapat petunjuk nash (teks al-Qur’an/hadits) di dalamnya, dan bid’ah yang tidak ada petunjuk nash di dalam¬nya. Jadi setiap bentuk bid’ah yang menyalahi kitab dan sunnah adalah tercela dan harus diingkari. Akan tetapi bid’ah yang mencocoki keumuman dalil-dalil nash, maka masuk dalam kategoti terpuji.

Lalu bagaimana dengan hadits  ضَلاَلَةٍ بٍدْعَةٍ كُلُّ  “Setiap bid’ah adalah sesat”? Berikut ini adalah pendapat para ulama:

5. Imam Nawawi

Menurut Imam Nawawi, hadits di atas adalah masuk dalam kategori ‘am (umum) yang harus ditakhshish (diperinci).

6. Imam al-Hafidz Ibnu Rajab

Menurutnya, hadits di atas masuk ke dalam dalam kategori ‘am akan tetapi yang dikehendaki adalah khash (‘am yuridu bihil khash). Artinya secara teks hadits tersebut bersifat umum, namun dalam pemaknaannya dibutuhkan rincian-rincian.

Dari sekian banyak ulama, ada juga yang mengkategorikan bid’ah menjadi lima bagian, diantaranya:

  1. Bid’ah yang wajib dilakukan : contohnya, belajar ilmu nahwu, belajar sistematika argumentasi teologi dengan tujuan untuk menunjukkan kepada orang-orang atheis dan orang-orang yang ingkar kepada agama Islam, dan sejenisnya.
  2. Bid’ah yang mandub (dianjurkan): contohnya, adzan menggunakan pengeras suara, mencetak buku-buku ilmiah, membangun madrasah, dan lain-lain.
  3. Bid’ah yang mubah : contohnya, membuat hidangan makanan yang berwarna warni, dan sejenisnya.
  4. Bid’ah yang makruh : contohnya, berlebihan dalam menghias mushaf,  masjid dan sebagainya.
  5. Bid’ah yang haram: yaitu setiap sesuatu yang baru dalam hal agama yang bertentangan dengan keumuman dalil syar’i. misalnya solat isya tujuh rokaat.

Dari beberapa pandangan para ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa bid’ah itu tidak serta merta menjadi dholalah kemudian finnaar (golongan neraka). Ada banyak syarat yang mengharuskan bid’ah menjadi dholalah. Selama masih ada petunjuk dan tidak menyalahi Al Qur’an dan Hadits Rosul , maka kedudukannya dikategorikan sebagai mahmudah, ghairu madzmuma, dan bid’ah hasanah yang tentu saja tidak tergolong pada dholalah dan finnaar. Wallohu ‘alam bis showwab.

Disarikan dari berbagai sumber

(Kominfo/Gft)

Leave a Comment