Bertabayun Atau Pecah Belah

oleh: Hasan Basri

Judul yang penulis anggit kali ini agak sedikit provokatif, namun saya yakin kebenarannya terjadi apa adanya. Dari judul di atas menggambarkan dua pilihan penting terkait informasi atau berita yang beredar, pilihannya adalah bertabayun sehingga terjadi kerukunan atau anda meneruskan informasi salah dan terjadi perpecahan antara masyarakat.

Di era post truth dan medsos informasi tak susah didapatkan, namun di sisi lain kebenarannya pun menjadi gamang. Dengan follower yang banyak seseorang bisa memutar balikan fakta dan bisa menguasai opini masyarakat, kesalahan yang diulang-ulang bisa menjadi kebenaran yang dikuatkan, kebenaran yang didiamkan bisa menjadi kesalahan yang diinginkan.

Itulah tantangan era ini, termasuk menjadi tantangan bangsa kita, hampir-hampir bangsa ini terpecah belah karena banyaknya hoaks yang dibenarkan dan terus diulang-ulang. Dalam satu kesempatan, H. Yaqut Cholil Qoumas yang akrab disapa Gus Yaqut  (Menag RI baru) menegaskan bahwa ternyata potensi terpecah belahnya bangsa ini, selain disebabkan oleh agama yang disalahgunakan juga akibat berita yang diselewengkan. Dalam kesempatan itu Gus Yaqut membuat pernyataan kesimpulan yang ia alami sendiri. Beberapa hari setelah ia dilantik menjadi Menag  RI, ramai diberitakan di media-media mainstrim bahwa Menag Akan akan mengafirmasi keberagamaan Syi’ah dan Ahmadiah. Jelas bahwa isu sensitif ini menjadi pemberitaan utama di minggu-minggu ini, karena memantik kontroversi di kalangan anak bangsa, baik yang setuju maupun yang tidak setuju. Padahal dia tidak merasa pernah melontarkan statemen tersebut. Terlepas benar dan tidaknya pernyataan tersebut, ia kaget sekaget-kagetnya dengan apa yang ditulis oleh media- media pemberitaan. Pernyataan seperti ini apabila terus didengungkan tanpa adanya tabayun sangat berpotensi menyulut emosi dan terpecah belahnya masyarakat. Inilah yang menjadi alasan penegasan Gus Yaqut dalam kesempatan itu yang harus kita waspadai dan berhati-hati dalam menginformasikan suatu berita.

Sesuai judul di atas, tulisan ini akan mengulas berkenaan dengan tabayun berita. Peristiwa hoaks (berita bohong) yang terjadi beberapa kali di masa Nabi, di antara peristiwa hoaks yang hampir Nabi Muhammad termakan olehnya dan hampir saja jatuh korban adalah peristiwa yang menjadi sebab nuzul firman Allah;

ان جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا

Diceritakan bahwa ayat ini turun atas sebab peristiwa yang terjadi di masa Nabi. Yaitu ketika Harits menyatakan keislamannya di hadapan Nabi, ia berjanji untuk kembali ke kampung halamannya yaitu Bani Mustholiq untuk mengajak masyarakatnya masuk Islam dan mengumpulkan zakat untuk kepentingan dakwah Nabi di Madinah. Ditentukanlah waktu yang disepakati oleh Nabi Muhammad dan Harits untuk memberikan zakat yang sudah terkumpul kepada Nabi.

Waktu yang dijanjikan pun tiba saatnya, namun utusan yang dijanjikan Nabi untuk menemui Harits dan mengambil zakat yang dikumpulkan Harits tak kunjung datang, Saat itu Harita cemas, ia mengira ada sesuatu yang janggal sehingga Nabi tidak mengirim utusan. Ternyata benar Nabi marah kepada Harits, pasalnya Nabi Muhammad mengutus Walid bin Uqbah untuk bertemu Harits, namun belum juga bertemu Harits. Walid bin Uqbah pulang duluan, karena ia takut disakiti oleh kaum Bani Mustholiq di kampungnya Harits. Sebelumnya memang walid bin Uqbah pernah berselisih paham dengan kaum Bani Mustholiq, ia pulang Ke Madinah dan merekayasa hoaks bahwa ia telah bertemu Harits namun ia tidak sempat mengumpulkan zakat karena diancam dibunuh.

Mendengar cerita Walid bin Uqbah, Nabi marah besar dan mengutus Khalid bin Walid untuk memerangi kaum Bani Mustholiq. Namun di tengah perjalanan Khalid bin Walid bertemu dengan Harits dengan wajah penuh amarah. Dengan mengontrol amarahnya, dia menanyakan apa gerangan yang terjadi sehingga Walid bin Uqbah tidak bisa mengumpulkan zakat karena ada ancaman pembunuhan. Mendengar pertanyaan Khalid bin Walid, Harits pun kaget dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan menceritakan apa yang mendorongnya pergi ke Madinah untuk bertabayun kepada Nabi karena sampai batas waktu yang ditentukan tidak ada utusan yang datang. Atas penjelasan Harits ini, Khalid bin Walid akhirnya sadar bahwa berita hoaks telah dihembuskan oleh Uqbah, keduanya segera menemui Nabi untuk mengklarifikasi kejadian sebenarnya sehingga tidak terjadi kesalah fahaman, pertumpahan darah dan keterpecah belahan.

Akhirnya turunlah ayat “apabila datang kepada kalian seorang Fasik yang membawa berita, maka bertabayunlah,” ayat ini dengan jelas mengajak kita supaya berhati-hati, saya ulangi supaya berhati-hati dalam menerima informasi apapun baik berupa tulisan, foto atau video yang kita dapatkan dari manapun, baik media cetak, elektronik, online, WAG atau yang lainnya. Terlebih di era medsos yang dengan mudah didapatkan, agar kiranya kita selalu mengklarifikasi dan bertabayun sesuai anjuran Qur’an, supaya kita tidak menjadi bagian dari pemecah belah dan penyambung kesalahan yang bisa jadi jariah keburukan di akhirat kelak.

 Wallohu a’lam bishowab

 Penulis adalah Ketua INSTRUKTUR PC GP Ansor Kab. Bandung

Related posts

Leave a Comment