Banser

Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) yang ada di bawah panji Nahdlatul Wathan didirikan pada Tahun 1924  oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah dan dipimpin oleh Abdullah Ubaid, merupakan cikal bakal terbentuknya BANSER (Barisan Ansor Serbaguna).

Logo Banser

Kehadiran Subbanul Wathan ketika itu disambut baik oleh unsur pemuda, sehingga ratusan pemuda mencatatkan diri sebagai anggota, karena aktivitas organisasi ini menyentuh kepentingan dan kebutuhan pemuda saat itu. Karena Subbanul Wathan telah diterima baik oleh pemuda, maka dibentuklah organisasi kepanduan yang diberi nama Ahlul Wathan (Pandu Tanah Air), sebagai inspektur umum kwartir Imam Sukarlan Suryoseputro. Kelanjutan perkembangan organisasi ini menitikberatkan pada aspek kebangsaan dan pembelaan tanah air.

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri (31 Januari 1926) kegiatan organisasi berkurang karena beberapa pengurusnya ikut disibukkan untuk mengurus organisasi NU. Maka, pada tanggal 24 April 1934 berdirilah organisasi ANO (Ansoru Nahdlatul Oelama) yang dimaksudkan dapat mengambil berkah (Tabarrukan) atas semangat perjuangan para sahabat Nabi dalam memperjuangkan dan membela serta menegakkan agama Allah. Melalui kongres I tahun 1936, Kongres II Tahun 1937 dan Kongres III tahun 1938 memutuskan ANO mengadakan Barisan Berseragam yang diberi nama BANOE (Barisan Nahdlatul Oelama) dengan merinci jenis riyadloh yang diperbolehkan:

  1. Pendidikan baris berbaris
  2. Latihan Lompat dan Lari
  3. Latihan angkat mengangkat
  4. Latihan ikat mengikat (Pionering)
  5. Fluit Tanzim (belajar kode/isyarat suara)
  6. Isyarat dengan bendera (morse)
  7. Perkemahan
  8. Belajar menolong kecelakaan (PPPK)
  9. Musabaqoh Fil Kholi (Pacuan Kuda)
  10. Muromat (melempar lembing dan cakram)

Dari perkembangan-perkembangan yang terjadi inilah maka ANO kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan BANOE menjadi Barisan Ansor Serbaguna atau disingkat dengan BANSER. https://banserkabupatenbandung.com/