ASWAJA (Sekilas Tentang Ahlussunnah Wal Jama’ah)

Ahalussunnah Wal Jama’ah (ASWAJA) merupakan salah satu madzhab teologis yang mengacu pada Al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. ASWAJA sendiri selalu disandarkan pada hadits nabi “Ma Ana ‘Alaihi wa Ashabi” yang dijelaskan sendiri oleh Rasululloh SAW dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud bahwa :”Bani Israil terpecah belah menjadi 72 Golongan dan ummatku akan terpecah belah menjadi 73 golongan, kesemuanya masuk nereka kecuali satu golongan”. Kemudian para sahabat bertanya ; “Siapakah mereka itu wahai Rasululloh?”, lalu Rosululloh menjawab : “Mereka itu adalah Maa Ana ‘Alaihi wa Ashabi” mereka yang mengikuti apa saja yang aku lakukan dan juga dilakukan oleh para sahabatku.

Dalam bidang aqidah/tauhid mengacu pada rumusan Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi. Dalam masalah syari’ah/fiqh mengikuti madzhab empat, yakni Madzhab al-Hanafi, Madzhab al-Maliki, Madzhab al-Syafi`i, dan Madzhab al-Hanbali. Dan dalam Bidang tashawwuf mengikuti Imam al-Junaid al-Baghdadi (w. 297 H/910 M) dan Imam al-Ghazali.

Bersandarkan pada hadits tersebut, dapat dikatakan bahwa konsep dasar ASWAJA telah ada sejak zaman Rasululloh SAW. Namun dalam pergerakannya ASWAJA lahir dari pergulatan pemikiran yang intens. Secara khusus, ASWAJA mempunyai pemikiran-pemikiran sebagai reaksi terhadap ajaran-ajaran Mu’tazilah, dan kemudian pemikiran ini menjadi doktrin di dalam aliran ini. Di antara pemikirannya adalah mengenai sifat Allah, al-Qur’an, melihat Tuhan di akhirat, kekuasaan mutlak Tuhan dan keadilan Tuhan, mengenai perbuatan Tuhan, mengenai perbuatan manusia dan perbuatan dosa besar. Secara umum, doktrin Ahlus Sunnah Wal Jama’ah meliputi tiga aspek, yaitu aspek aqidah/tauhid, syari’ah/fiqh dan tasawuf.

Adalah Abu Hasan Al-Asy’ari (w 324 H) dan Abu Mansyur Al Maturidi (w. 333 H) yang menjadi tokoh utama dan dikenal sebagai pendiri madzhab ASWAJA. Dua tokoh ini mengembangkan ajaran mereka sebagai doktrin penting dalam aliran ASWAJA.

Jika sekarang banyak kelompok yang mengaku sebagai penganut ASWAJA maka mereka harus membuktikannya dalam praktik keseharian bahwa ia benar-benar telah mengamalkan Sunnah Rasul dan Sahabatnya.

Perbedaan yang terjadi diantara kelompok ASWAJA tidak mengakibatkan keluar dari golongan ASWAJA sepanjang masih menggunakan metode yang disepakati sebagai Madzhabul Jami’ . Hal ini didasarkan pada Sabda Rosululloh SAW. Yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim : “Apabila seorang hakim berijtihad kemudian ijtihadnya benar, maka ia mendapatkan dua pahala, tetapi apabila dia salah maka ia hanya mendapatkan satu pahala”. Oleh sebab itu antara kelompok ASWAJA walaupun terjadi perbedaan diantara mereka, tidak boleh saling mengkafirkan, memfasikkan atau membid’ahkan.

Namun tidak dapat dipungkiri dalam ASWAJA sendiri terdapat beberapa perbedaan. Namun perbedaan itu hanya sebatas pada penerapan dari prinsip-prinsip yang telah disepakati dikarenakan adanya perbedaan dalam penafsiran sebagaimana dijelaskan dalam kitab Ushulul Fiqh dan Tafsirun Nushus.

Sebagaimana dinyatakan dimuka, bahwa ASWAJA sebenarnya bukanlah madzhab tetapi hanyalah Madzhabul Fikr (metodologi berfikir) atau faham saja yang didalamnya masih memuat banyak aliran dan madzhab. Faham tersebut sangat lentur, fleksibel, tawassuth, I’tidal, tasamuh dan tawazun. Hal ini tercermin dari sikap Ahli Sunnah Wal Jama’ah yang mendahulukan Nash namun juga memberikan porsi yang longgar terhadap akal, tidak mengenal tatharruf (ekstrim), tidak kaku, tidak jumud (mandeg), tidak eksklusif, tidak elitis, tidak gampang mengkafirkan ahlul qiblat, tidak gampang membid’ahkan berbagai tradisi dan perkara baru yang muncul dalam semua aspek kehidupan, baik aqidah, muamalah, akhlaq, sosial, politik, budaya dan lain-lain.

Adapun kelompok yang keluar dari garis yang disepakati dalam menggunakan Madzhabul jami’ yaitu metode yang diwariskan oleh oleh para sahabat dan tabi’in juga tidak boleh secara serta merta mengkafirkan mereka sepanjang mereka masih mengakui pokok-pokok ajaran Islam, tetapi sebagian ulama menempatkan kelompok ini sebagai Ahlil Bid’ah atau Ahlil Fusuq.

Pendapat tersebut dianut oleh antara lain KH. Hasyim Asy’ari sebagaimana pernyataan beliau yang memasukkan Syi’ah Imamiah dan Zaidiyyah termasuk kedalam kelompok Ahlul Bid’ah.

Wal hasil salah satu karakter ASWAJA yang sangat dominan adalah “Selalu bisa beradaptasi dengan situasi dan kondisi”. Langkah Al-Asy’ari dalam mengemas ASWAJA pada masa paska pemerintahan Al-Mutawakkil setelah puluhan tahun mengikuti Mu’tazilah merupakan pemikiran cemerlang Al-As’ari dalam menyelamatkan umat Islam ketika itu. Kemudian disusul oleh Al-Maturidi, Al-Baqillani dan Imam Al-Juwaini sebagai murid Al-Asyari merumuskan kembali ajaran ASWAJA yang lebih condong pada rasional juga merupakan usaha adaptasi ASWAJA.

Pokok-pokok Ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah

  • Aqidah/Tauhid

Tauhid atau yang lebih dikenal dengan sebutan aqidah ASWAJA dibagi menjadi beberapa bagian yang terkandung dalam arkan al-iman yaitu iman kepada Allah SWT., kepada Malaikat-malaikat-Nya, kepada Kitab-kitab Nya, kepada Rosul-rosul Nya, kepada Hari Akhir, Qada dan Qadar-Nya.

Iman kepada Allah SWT. Berarti percaya dan yakin sepenuhnya. Dengan menyakini sifat 20 yang menjadi sifat dalam dzat-Nya, yaitu:

  1.  Wujud (Maha Ada)
  2. Qidam (Dahulu)
  3. Baqo (Kekal)
  4. Mukhalafatu lilhawa disi (Berbeda dengan yang lain)
  5. Qiyamuhu bi nafsihi (Berdiri sendiri)
  6. Wahdaniyah (Satu)
  7. Qudrot (Kuasa)
  8. Irodat (Berkehendak)
  9. ‘Ilmu (Mengetahui)
  10. Hayat (Hidup)
  11. Sama’ (Mendengar)
  12. Basar (Melihat)
  13. Kalam (Berbicara)
  14. Qadiran (Maha Kuasa)
  15. Muridan (Maha Menentukan)
  16. ‘Aliman (Maha Melihat)
  17. Hayyan (Maha Hidup)
  18. Sami’an (Maha Mendengar)
  19. Bashiron (Maha Melihat)
  20. Mutakalliman (Maha Berfirman)
  • Syari’ah /Fiqh

 Dalam bidang syari’ah ASWAJA menetapkan 4 (empat) sumber yang bisa dijadikan rujukan bagi pemahaman keagamaannya, yaitu al-Qur’an, Sunnah Nabi, Ijma’ (kesepakatan Ulama), dan Qiyas.

Dari keempat sumber yang ada, al-Qur’an dijadikan sebagai sumber utama, artinya apabila terdapat masalah kehidupan yang dihadapi, al-Qur’an didahulukan sebagai sumber pemecahannya. Apabila masalah tersebut terdapat pemecahannya dalam al-Qur’an, maka permasalahan tersebut dianggap selesai. Apabila masalahnya tidak dapat dipecahkan dalam al-Qur’an, maka sunnah Nabi SAW. Dijadikan sebagai sandaran.

Apabila masalah itu tidak dapat dipecahkan dengan sunnah Nabi, maka ada ijma’. Para ahlu hal wal ‘aqd dikalangan para ulama terdahulu, apabila masalah tersebut dapat dipecahkan dengan ijma’, maka selesai di ijma’.

Tapi jika masalah tidak bisa diselesaikan secara ijma’, maka akal dapat dijadikan sebagai sandaran ijtihad dengan mengqiyaskan hal-hal yang belum diketahui status hukumnya kepada hal-hal yang sudah diketahui status hukumnya.

Adapun pokok ajaran ASWAJA dalam syari’ah ada dua bagian, yakni tentang ‘ubudiah (yang mengatur tentang hukum Islam) dan mu‘amalah (yang mengatur tentang hubungan manusia dengan benda).

Aspek syari’ah disebut dengan fiqh, menurut Habsy as-Shiddiqy, fiqh terbagi dalam 7 bagian:

  1. Golongan ibadah yaitu shalat, puasa, haji, zakat, ijtihad dan nazar.
  2. Sekumpulan hukum yang berpautan dengan kekeluargaan atau yang lebih di kenal dengan ahwal as-Syahsiyyah seperti perkawinan, talak, nafaqah, wasiat dan pusaka.
  3. Sekumpulan hukum mengenai mu‘amalah nadariyah seperti hukum jual beli, sewa-menyewa, hutang-piutang, dan menunaikan amanah
  4. Sekumpulan hukum mengenai harta Negara.
  5. Sekumpulan hukum yang dinamai ‘uqubah seperti qiyas, had, dan ta’zir.
  6. Sekumpulan hukum seperti acara penggutan, peradilan, pembuktian, dan saksi.
  7. Sekumpulan hukum internasional seperti perang, perjanjian, dan perdamaian.

Seperti disebutkan di atas, ASWAJA mengikuti salah satu dari mazhab yang empat dan masing-masing Imam ini mempunyai dasar tersendiri yang sumber utamanya tetap bermuara pada al-Qur’an dan Sunnah.

  • Tasawuf

Tasawuf adalah aspek yang berkaitan dengan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT, memantapkan keimanan, mengkhusu’kan ibadah dan memperbaiki akhlak. Pada dasarnya ajaran tasawuf merupakan bimbingan jiwa agar menjadi suci, selalu tertambat kepada Allah dan terjauhkan dari pengaruh selain Allah.

Jadi tujuan tasawuf dimaksudkan untuk mencoba sedekat mungkin kepada Allah SWT dengan melalui proses yang ada dalam aturan tasawuf. Hamka, menyampaikan dalam “Tasawuf Perkembangan dan Pemeriksaannya”. Jalan untuk mencapai proses tersebut sangatlah panjang, yang disebut dengan al-maqamat. Adapun macam-macam dari al-maqamat adalah:

  1.  Maqam Taubat, yaitu meninggalkan dan tidak mengulangi lagi suatu perbuatan dosa yang pernah dilakukan, demi menjunjung tinggi ajaranajaran Allah dan menghindari murkanya.
  2. Maqam Waro’, yaitu menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu guna menjungjung tinggi perintah Allah atau meninggalkan sesuatu yang bersifat subhat.
  3. Maqam Zuhud, yaitu lepasnya pandangan kedunian atau usaha memperolehnya dari orang yang sebetulnya mampu memperolehnya.
  4. Maqam Sabar, yaitu ketabahan karena dorongan agama dalam menghadapi atau melawan hawa nafsu.
  5. Maqam Faqir, yaitu perasaan tenang dan tabah di kala miskin harta dan mengutamakan kepentingan orang lain dikala kaya.
  6. Maqam Khouf, yaitu rasa ketakutan dalam menghadapi siksa dan azab Allah.
  7. Maqam Roja’, yaitu rasa gembira karena mengetahui adanya kemurahan dzat yang Maha Kuasa.
  8. Maqam Tawakal, yaitu pasrah dan bergantung kepada Allah dalam kondisi apapun.
  9. Maqam Ridho, yaitu sikap tenang dan tabah tatkala menerima musibah sebagaimana di saat menerima nikmat.

Prinsip dasar dari aspek tasawuf adalah adanya keseimbangan kepentingan ukhrawi dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, dengan jalan spiritual yang bertujuan untuk memperoleh hakekat dan kesempurnaan hidup manusia. Akan tetapi tidak boleh meninggalkan garis-garis syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dalam al-Qur’an dan Sunnah.

Jalan sufi yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. dan para pewarisnya adalah jalan yang tetap serta teguh memegang perintah-perintah Allah SWT. Karena itu umat Islam tidak dapat menerima jalan sufi yang melepaskan diri dari kewajiban syariat.

Demikian sekilas tentang AWAJA dan pokok-pokok ajarannya yang dirangkum dari berbagai sumber. Semoga dapat menjadi tambahan pengetahuan bagi sahabat semua, sehingga kita dapat lebih meneguhkan hati dan tergolong sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Yang disiratkan dalam hadits nabi sebagai golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

(Kominfo/adm)

Related posts

Leave a Comment