Antologi Puisi “Aku Santri Akang”

Oleh Shipa Silpiani

Usiaku 17 Tahun. Aku tinggal di Majalaya Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Setelah lulus dari sekolah terfavorit di Majalaya, aku menjalani pendidikan di Cibeureum, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Sekarang aku menjadi siswi di MA Ma’arif Karya Bakti Sukasari. Selain itu aku juga seorang santri di Nurul Huda Al-Islami. Sudah dua tahun lebih aku mengabdi di penjara suci ini

Aku melangkahkan kakiku menuju pesantren salaf yang jaraknya tidak jauh dengan gunung Wayang dan hulu sungai Citarum (Cisanti) dengan berniat mencari ridha dari sang Maha pencipta
Waktu berputar begitu cepat hingga akhirnya aku menjadi kakak kelas tertinggi. Berbagai rintangan yang datang, aku jadikan sebagai proses pendewasaan.

Ibadahku belum murni, tapi Akang tak bosan bosan mendorongku untuk melakukan segala perbuatan yang berbau islami, yang dulunya aku terpaksa kini aku terbiasa.


Semuanya tidaklah mudah

Bangun dan dibangunkan di sepertiga malam itu tidaklah mudah apalagi dilanjutkan dengan sorogan dan menyetorkan hafalan.

Meninggalkan kampung halaman demi sebuah cita cita itu tidaklah mudah,aku harus menahan rasa rindu yang amat berat ketika ingat kepada keluargaku
.
Semuanya tidaklah mudah bagiku ketika orang orang masih tidur nyenyak ditambah selimut yang hangat sedangkan aku harus melawan rasa dinginku dan melangkahkan kakiku memeluk kitab kuningku.

Aku pergi

Izinkan aku pergi meninggalkan tempat kelahiranku………

Izinkan aku pergi jauh dari keluargaku……….

Izinkan aku menyebut namamu ketika aku mulai merindukanmu…..

Izinkan aku menjadi seorang santri yang selalu setia mengabdi di penjara suci 

Doakan aku supaya kelak aku bisa menjadi penerus para kiai dan menjadi seorang dai yang selalu menyebarkan agama Islam sekaligus membela para ulama di zaman ini.

Ketinggalan zaman

Aku tidak tahu dunia luar, termasuk berbagai macam berita yang disajikan di dalam televisi.
Mungkin sebab itulah orang orang menyebutku ketinggalan zaman.
Aku tidak memegang handphone 
Aku hanya biasa memegang pulpen hi-tech-h dan membuka setiap lembar kitab kuningku.
Mungkin sebab itu pula orang orang menyebutku ketinggalan zaman
Aku tidak hafal lagu lagu kekinian.
Karena keseharianku membaca nadzoman dan menghafal matan. Mereka benar mungkin aku ketinggalan zaman namun yang terpenting bagiku kemaslahatan aku tidak peduli meskipun semuanya harus dilalui dengan mengantre


Untukmu

Aku memilih kesederhanaan jadi kamu tak perlu memberikan segala sesuatu yang bernilai wah untukku
Aku tidak menuntutmu mempunyai jabatan yang tinggi tidak pula memaksamu untuk mempunyai otak yang cerdas di dalam segala hal
Namun yang ku pinta jangan pernah berhenti untuk mencari ilmu apapun yang terjadi  kamu harus menulis di atas lembaran kertas kuning itu
Namun bukan berarti kitab kuningmu menjadi syarat untuk mengkhitbahku.
Semoga ketika aku dan kamu bersatu di dalam ikatan yang suci, keturunan kita seorang kiai

Sebuah harapan

Akankah ini menjadi masa depan yang kita harapkan?
Atau hanya sebatas kenangan yang akan terlupakan?
Membuat halaqah nadzaman bersama 
Suka duka dalam menghadapi masalah yang ada
Menikmati indahnya kebersamaan
Panjang umur sebuah harapan

Penulis adalah santri Nurul Huda Islami Cibeureum, Kertasari

Related posts

Leave a Comment