Agama itu Inspirasi Bukan Aspirasi

oleh: Hasan Basri

“Agama itu Inspirasi Bukan Aspirasi”, kalimat tersebut begitu populer baru-baru ini. Sebabnya Menteri Agama  Repulik Indonesia (MENAG RI) yang baru H. Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) menjadikannya sebagai stetement pembuka dalam pidato sambutannya setelah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Setelah Gus Yaqut berbicara banyak hal yang berkaitan dengan proses pengangkatannya sebagai MENAG, kemudian dia berbicara tentang hubungan agama dan politik kekuasaan. Dia berbicara lantang dan sedikit menekan ketika mengatakan “Agama Itu Inspirasi Bukan Aspirasi”. Penekanan itu memberikan kesan kepada maysarakat bahwa inti dari apa yang ia bicarakan dari pidatonya yaitu nilai luhur agama tidak boleh tumbang dan luntur karena terhalang oleh aspirasi-aspirasi politik yang mengatas namakan agama.

Habib Ali bin Zainal Abidin dalam bukunya yang berjudul Al Insaniyah Qabla Tadayyun halaman 32, sebuah buku yang amat populer dewasa ini, yang artinya, Kemanusiaan Sebelum Beragama, menjelaskan dengan tegas dan lugas menggunakan kalimat fi’il amr (kalimat perintah dalam bahasa arab) sebagai nasihat tulus beliau kepada pemuda muslim hari ini, beliau berkata:

فرقوا بين اجتهادكم السياسية و مخاطبة الناس باسم الله. ليس فصلا للدين عن الحياة و لكن حتي لا يشاب دين الله المعصوم بدخل اجتهادكم السياسية فهو جهد بشري يعتريه صواب و خطاء

saya akan membahas perkalimat supaya lebih mudah memahami keterangan di atas;

1. فرقوا بين اجتهادكم السياسية و مخاطبة الناس باسم الله

“Farriqu baina ijtihadikum al siyasiah wa mukhotobannasi bismillah” artinya: pisahkanlah oleh kalian ijtihad siasah politik dan ajakan masyarakat dengan mengatasnamakan Allah. Kalimat ini sangat jelas mengajak kita para pemuda muslim untuk sebisa mungkin memisahkan antara nilai luhur agama dan itihad politik. Jangan kita menggunakan politik identitas dalam memenuhi hasrat politik untuk merebut kekuasaan.

Coba perhatikan kalimat yang digunakan oleh habib Ali, beliau menggunakan jumlah fi’liah haliah artinya perintah yang harus ditinggalkan sesegera mungkin, karena baginya hal ini mendesak untuk dilaksanakan oleh kita termasuk alam perpolitikan di Indonesia yang hampir membuat bangsa ini terbelah dan hancur akibat politik identitas.

Dan saya kira hal itu menjadi perhatian Presiden Jokowi ketika mengangkat Gus Yaqut menjadi MENAG menggantikan yang sebelumnya. Namun bagi yang tidak memahami ini menganggap bahwa pengangkatan Gus Yaqut sebagai bentuk keinginan untuk “menggebuk” Islam. Padahal yang ingin “digebug” Gus Yaqut sesuai keterngan Habib Ali ini adalah ingin “mengebuk” kelompok-kelompok Islam yang dengan mudahnya membungkus ambisi politiknya dengan baju agama mengatasnamakan Allah.

2. ليس فصلا للدين عن الحياة

“Laisa fashlan ‘anil hayah,” artinya: pemisahan itu bukan bermaksud memisahkan agama dengn kehidupan. Kalimat ini menjadi keterangan kalimat sebelumnya, bahwa pemisahan yang dimaksud bukan berarti bahwa agama itu harus dipisahkan dari kehidupan politik kebangsaan atau bahwa apa yang dimaksudkan oleh Habib Ali dan Gus yaqut sebagai pemahaman sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, dan hal ini menjadi tuduhan buruk banyak pihak atas pemahaman ini.

3. و لكن حتي لا يشاب دين الله المعصوم بدخل اجتهادكم السياسية فهو جهد بشري يعتريه صواب و خطاء

“Walakin hatta la yusyabu dinullohi al makshum bi dakhli ijtihadikum al siyasiah fahuwa juhdun basyariun ya’tarihi showabun wa khataun,” artinya: akan tetapi supaya agama Allah yang ma’shum tidak terkotori asupan asupan ijtihad politik kalian karena ijtihad politik itu adalah usaha manusiawi yang bisa salah dan benar.

Inilah alasan utama Habib Ali yang diamini oleh Gus Yaqut tentang pentingnya menghindari politik identitas. Jadi biarkanlah agama Allah yang ma’shum ini menjadi nilai luhur, inspirasi kebaikan, menjadi sumber persatuan, kebinekaan, inspirasi kebijakan perundangan.

Sehingga tidak digunakan sebagai tameng atau lipstik ambisi kekuasaan sesaat, karena ambisi kekuasaan politik itu sifatnya ijtihad basyari yang bisa salah dan bisa benar atau bisa jadi merusak tatanan perdamaian yang sudah nyaman dan harmonis. Jadi hindarilah menjual agama untuk ambisi kekuasaan.

Penulis adalah Tokoh Muda Kabupaten Bandung

Related posts

One Thought to “Agama itu Inspirasi Bukan Aspirasi”

  1. Inspirasi bukan aspirasi
    GP Ansor Selalu Jaya… Amiin

Leave a Comment